Aplikasi KUDU Sekolah Kabupaten Pekalongan (Menjamin Anak Tidak Sekolah Terdata,Terkonfirmasi, Terpantau Dan Terdampingi Untuk Kembali Bersekolah)

Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Kabupaten Pekalongan Tahun 2018 sebesar 68,97 (11 terendah di Jawa Tengah).
Angka ini menunjukkan pembangunan manusia terutama dimensi pendidikan masih menjadi permasalahan serius. Salah satu permasalahan yang perlu
ditangani adalah masih banyaknya Anak Tidak Sekolah (ATS). Berdasarkan BDT-Kemensos, EMIS-Kemenag,
DAPODIK-Kemdikbud dan data PUS didapatkan 32.426 ATS. Untuk mengembalikan ATS ke sekolah, pada 2 Mei 2019 diluncurkan Gerakan
KUDU Sekolah. Gerakan ini awalnya mengalami permasalahan karena data ATS
tersaji dengan versi yang berbeda-beda, dari banyak sumber data, belum menyeluruh, lama dalam penyajian, miskin
informasi.
Perubahan sejak Aplikasi KUDU Sekolah diterapkan dapat terlihat dari tersedianya data
ATS melalui aplikasi sebanyak 4.521 anak, terkonfirmasinya ATS sebanyak 788
anak kembali bersekolah; terpantaunya ATS kembali bersekolah sebesar 96,98%;
terbitnya 3 regulasi pendukung; bertambahnya dukungan anggaran; terstrukturnya kelembagaan tingkat kabupaten, kecamatan (19) dan desa/kelurahan (285); dan
bertambahnya sekolah inklusi menjadi 22 SD, 20 SMP.
Sesuai tuntutan masa pandemi proses pendataan, rekonfirmasi, monev ATS
kini dilaksanakan secara online oleh operator kecamatan, desa dan satuan pendidikan. Selain itu masyarakat
dapat berpartisipasi secara online
dalam memperoleh data maupun mengusulkan data ATS.
Keberlanjutan ikhtiyar ini diperkuat dengan Perbup Wajib Belajar 12 Tahun, Perbup Penunjukan Satuan Pendidikan Penyelenggara Pendidikan Inklusi, juga didukung Perbup tentang Kajen Satu Data. Kelangsungan inovasi ini dijamin dengan adanya Panduan KUDU Sekolah dan Tutorial Penggunaan Aplikasi. Pengembangan SDM dilaksanakan melalui ToT, pelatihan operator dan sosialisasi kepada masyarakat. Penjaminan mutu ditempuh melalui evaluasi program secara berkala dan adanya sharing knowledge bahasa program.
Aplikasi KUDU Sekolah
berpotensi untuk diterapkan ke wilayah/program lain, karena permasalahan ATS hampir sama dialami
daerah. Aplikasi ini mudah dioperasikan/ditransfer, karena menggunakan
pemrograman dan logika berpikir sederhana.